Bercinta, dicinta, menyinta
Segalanya bagai tiada apa
Pengalaman mengajar segalanya
Lagenda memburu rasa
Bercinta itu ada
Dicinta itu biasa
Menyinta itu berbeza
Pedih pada bicara
Bagai gendang dipukul palu
Terasa debar menyentap kalbu
Namun lagenda terus memburu
Menyentap nikmat hati yang satu
Sementelahan bicara
Tinta jujur bertanya
Bercinta, dicinta menyinta
Mampukah menjadi nyata??
Setiap Perpisahan Di Awali Dengan Pertemuan. Jangan Salahkan Perpisahan Kerana Pertemuanlah Yang Menghadirkan Kasih Sayang.
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Tuesday, May 4, 2010
Saturday, January 30, 2010
Bermula......
Degup jantung bergetar
Pemula langkah terketar
Namun semua itu dihindar
kerana telah datangnya sinar
Sinar menyuluh tanpa rasa
Buat hati berkilau-kilau jua
Jalan berbangga tanpa riaknya
Jiwa gembira tidak terkata
Mendung itu kalanya tiba
Lumrah alam takdir TuhanNya
Kuat lemah teruji bermula
Segalanya ditangan dan hati kita
Kaki ini baru melangkah
Pahit Maung akan bertingkah
Masam jua boleh bergundah
Manis masin akan bertelagah
Jalan ini suatu amanah
Moga Tuhan Beri mudah
Juga beri rahmat barakah
Buat penyelamat di alam barzah
Pemula langkah terketar
Namun semua itu dihindar
kerana telah datangnya sinar
Sinar menyuluh tanpa rasa
Buat hati berkilau-kilau jua
Jalan berbangga tanpa riaknya
Jiwa gembira tidak terkata
Mendung itu kalanya tiba
Lumrah alam takdir TuhanNya
Kuat lemah teruji bermula
Segalanya ditangan dan hati kita
Kaki ini baru melangkah
Pahit Maung akan bertingkah
Masam jua boleh bergundah
Manis masin akan bertelagah
Jalan ini suatu amanah
Moga Tuhan Beri mudah
Juga beri rahmat barakah
Buat penyelamat di alam barzah
Saturday, October 31, 2009
Hati : Rindu
Malam ini sepi
Hujan mengiringi
Seolah memahami
Erti rindu di hati
Rindu ini jahat
Datang berdekat-dekat
Tusuk hati tidak bertebat
Berbisa pilu terkulat-kulat
Rindu masa lalu
Buat semakin cemburu
Pilu semakin memburu
Tidak metah begitu
Rindu pada teman
Rindu pada kawan
Rindu pada halaman
Rindu pada kenangan
Hah!!
Biarkan kerinduan itu membubar sendirian
Kerana datangnya tak berundangan
Pilu pada rindu itu hanya permainan
Kerana selalu bertepuk tanpa sambutan
Hujan mengiringi
Seolah memahami
Erti rindu di hati
Rindu ini jahat
Datang berdekat-dekat
Tusuk hati tidak bertebat
Berbisa pilu terkulat-kulat
Rindu masa lalu
Buat semakin cemburu
Pilu semakin memburu
Tidak metah begitu
Rindu pada teman
Rindu pada kawan
Rindu pada halaman
Rindu pada kenangan
Hah!!
Biarkan kerinduan itu membubar sendirian
Kerana datangnya tak berundangan
Pilu pada rindu itu hanya permainan
Kerana selalu bertepuk tanpa sambutan
Puisi : Melangkah...
Mentari pagi muncul kembali
Bersama harapan tekad di sisi
Membaur keinginan yang dihajati
Agar semua sempurna dilangkahi
Aturan langkah demi langkah
Mewaspadai seribu dugaan berduri
Dengan harapan tidak jatuh tersembah
Dek kecuaian dan kealpaan sendiri
Langkah ini penuh sokongan
Tidak pula ada bangkangan
Impian ini yang aku harapkan
Jadi jua ia kenyataan
Ku mohon.....
Derap langkah yang terbina
Terus mara menuju destinasinya
Bersama jiwa bahagia
Jua Keredhaan dari-NYA
Tuhan...
Izinkan aku terus melangkah....
Bersama harapan tekad di sisi
Membaur keinginan yang dihajati
Agar semua sempurna dilangkahi
Aturan langkah demi langkah
Mewaspadai seribu dugaan berduri
Dengan harapan tidak jatuh tersembah
Dek kecuaian dan kealpaan sendiri
Langkah ini penuh sokongan
Tidak pula ada bangkangan
Impian ini yang aku harapkan
Jadi jua ia kenyataan
Ku mohon.....
Derap langkah yang terbina
Terus mara menuju destinasinya
Bersama jiwa bahagia
Jua Keredhaan dari-NYA
Tuhan...
Izinkan aku terus melangkah....
Saturday, September 5, 2009
Hati, Puisi : Pasrah.....
Hari demi hari yang berlalu
Telah membawa aku ke suatu penjuru
Yang tepu dan lesu
Penjuru itu semakin sempit
Dari asakan yang mendatang
Dada terus terasa dihimpit
Dalam nafas yang berkurang
Perlukah aku terus meniti
Sedangkan aku terlanjur ada di sini
Perlukah aku terus mencari
Sedangkan hati terlanjur bererti
Berkata itu mudah
Dikota itu indah
Perit itu berdarah
Hanya bertemankan pasrah......
Telah membawa aku ke suatu penjuru
Yang tepu dan lesu
Penjuru itu semakin sempit
Dari asakan yang mendatang
Dada terus terasa dihimpit
Dalam nafas yang berkurang
Perlukah aku terus meniti
Sedangkan aku terlanjur ada di sini
Perlukah aku terus mencari
Sedangkan hati terlanjur bererti
Berkata itu mudah
Dikota itu indah
Perit itu berdarah
Hanya bertemankan pasrah......
Thursday, July 30, 2009
Puisi : Munajat
Tiba2 aku terjumpa puisi ini.
Puisi yang sangat indah dan menarik.
Aku rasa, kita boleh berkongsi.....

Tuhan… kubisikkan kerinduan
keinsafan… pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
Bisikkanku untukMu
Munajatku mohon restu
Semoga cintaku bukan palsu
Pada desiran penuh syahdu
Gelombang lautan rinduku
Munajatku dalam syahdu
Merindui maghfirahMu
MardhiaMu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku
Kurindukan pimpinanMu
KeagunganMu dalam doaku
Kebesaran pada kudratMu
Ia membina rohaniku
Tuhan… kubisikkan kerinduan
Keinsafan… Pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
Ujian kepahitan di dalam kehidupan
Padanya ada kemanisan
Ketenangan dan kebahagiaan
Bayangan syurga idaman
Munajatku dalam syahdu
Merindui maghfirahMu
MardhiaMu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku
Kurindukan pimpinanMu
KeagunganMu dalam doaku
Kebesaran pada kudratMu
Ia membina rohaniku
Tuhan… kubisikkan kerinduan
keinsafan… pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
keinsafan… pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
Bisikkanku untukMu
Munajatku mohon restu
Semoga cintaku bukan palsu
Pada desiran penuh syahdu
Gelombang lautan rinduku
Munajatku dalam syahdu
Merindui maghfirahMu
MardhiaMu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku
Kurindukan pimpinanMu
KeagunganMu dalam doaku
Kebesaran pada kudratMu
Ia membina rohaniku
Tuhan… kubisikkan kerinduan
Keinsafan… Pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
Ujian kepahitan di dalam kehidupan
Padanya ada kemanisan
Ketenangan dan kebahagiaan
Bayangan syurga idaman
Munajatku dalam syahdu
Merindui maghfirahMu
MardhiaMu dalam restu
Harapan tulusnya hatiku
Kurindukan pimpinanMu
KeagunganMu dalam doaku
Kebesaran pada kudratMu
Ia membina rohaniku
Tuhan… kubisikkan kerinduan
keinsafan… pengharapan…
Tuhan…kusembahkan pengorbanan
Membuktikan kecintaan
Friday, May 8, 2009
Puisi : Mimpi Pada Rindu
Ku renung cita-cita
Yang lekat di hati
Ku tutup cerita
Yang luka dimengerti
Ku pindah duka ke lubuk sepi
Ku buang citra jauh dari hati
Namun
Semuanya sekadar ilusi
Tak jujur ianya pergi
Datang dan kembali
Di imbas sekali
Realiti mampu dilupai
Tapi tidak pada memori
Kerna muncul di alam mimpi
Lantas
Mimpi menguasai
Yang lupa teringat kembali
Yang pedih berbisa lagi
Hakikatnya....mimpi pada rindu....
Yang lekat di hati
Ku tutup cerita
Yang luka dimengerti
Ku pindah duka ke lubuk sepi
Ku buang citra jauh dari hati
Namun
Semuanya sekadar ilusi
Tak jujur ianya pergi
Datang dan kembali
Di imbas sekali
Realiti mampu dilupai
Tapi tidak pada memori
Kerna muncul di alam mimpi
Lantas
Mimpi menguasai
Yang lupa teringat kembali
Yang pedih berbisa lagi
Hakikatnya....mimpi pada rindu....
Wednesday, March 25, 2009
Puisi : Doa untuk kasih dan sahabatku
Diposting oleh whandie
Kereguk segelas jeruk hangat
Berharap menghilangkan penat
Ah…rasa masam dan manis yang bersatu
Dapat sejenak membuatku melupakan waktu
Kekasihku…
Dialah nafasku
Sahabatku…
Merekalah ragaku
Tuhan…
Dia wanita yang tertanam rusukku
Dengan nafasnya aku hidup
Dengan mata hatinya aku melihat dunia
Tolong satukan kami selamanya
Seperti Bulan dan Bintang
Seperti Adam dan Hawa
Biarkan kisah cinta kami kekal abadi
Tuhan…
Dia yang mengisi hariku
Mendengarkan keluh kesahku
Kami saling berbagi cerita suka dan duka
Kami saling menopang dan
Memberikan semangat dalam berbagai cobaan hidup
Biarkan persahabatan kami kekal abadi
Tuhan….
Janganlah pisahkan aku dari kasihku dan sahabatku
Karena Kasihku….
Adalah nafasku
Karena Sahabatku….
Adalah ragaku
Kereguk segelas jeruk hangat
Berharap menghilangkan penat
Ah…rasa masam dan manis yang bersatu
Dapat sejenak membuatku melupakan waktu
Kekasihku…
Dialah nafasku
Sahabatku…
Merekalah ragaku
Tuhan…
Dia wanita yang tertanam rusukku
Dengan nafasnya aku hidup
Dengan mata hatinya aku melihat dunia
Tolong satukan kami selamanya
Seperti Bulan dan Bintang
Seperti Adam dan Hawa
Biarkan kisah cinta kami kekal abadi
Tuhan…
Dia yang mengisi hariku
Mendengarkan keluh kesahku
Kami saling berbagi cerita suka dan duka
Kami saling menopang dan
Memberikan semangat dalam berbagai cobaan hidup
Biarkan persahabatan kami kekal abadi
Tuhan….
Janganlah pisahkan aku dari kasihku dan sahabatku
Karena Kasihku….
Adalah nafasku
Karena Sahabatku….
Adalah ragaku
Monday, March 23, 2009
Puisi : Ku Rindu Tawamu
Sunyi sepi rasanya kini
Di temani bulan yang bermimpi
Alunan malam nan sunyi
Riuhnya tiada lagi
Walau kita hanya bersua seketika
Kau menjadi terlalu istimewa
Di kala aku kekosongan jiwa
Tercari-cari rentak bidadara
Kini keputusan aku pergi
Ingin aku membuang hati
Namun aku hanya menipu diri
Rindunya tetap utuh di hati
Akan ku cuba melupa
Rinduku pada tawa
Hanya kerna ianya
Melankolik mati jiwa
2.20
Sekolah & Masyarakat
TMNB7
UPSI
Di temani bulan yang bermimpi
Alunan malam nan sunyi
Riuhnya tiada lagi
Walau kita hanya bersua seketika
Kau menjadi terlalu istimewa
Di kala aku kekosongan jiwa
Tercari-cari rentak bidadara
Kini keputusan aku pergi
Ingin aku membuang hati
Namun aku hanya menipu diri
Rindunya tetap utuh di hati
Akan ku cuba melupa
Rinduku pada tawa
Hanya kerna ianya
Melankolik mati jiwa
2.20
Sekolah & Masyarakat
TMNB7
UPSI
Saturday, March 21, 2009
Puisi : Sibukkan Palestin & Kita Juga
Hari selasa 17hb Mac 2009, aku sebenarnya ader masuk pertandingan deklamasi puisi kat UPSI sempena Pest Konvokesyen yang ke 11. Saje je suka2. Dengan tak buat aper2 preparation, aku main redah ajer. Hasilnya, hemmm seperti yang dijangka. Takder nombor...hehehe...Kat bawah nie sajak yang aku bawak mase pertandingan tu.
Hasil Karya: Mohd Fauzi Abd Rahman
Pendeklamasi : Mohd Fauzi Abd Rahman
Usahlah kita mengharapkan lagi
Dari mereka kata simpati
Pengucapan dibibir lembut meniti
Tiada semestinya pengucapan dihati
Hanyalah kita sesama kita
Yang memahami erti derita
Hanyalah kita sesama kita
Yang mengerti erti kemanusiaan.......kemanusiaan...
Anak-anak kecil di sana
Berteriak mencari ibu mereka
IBU, di mana ibu?
Aku rindu pada belaianmu ibu
Di sana juga
Anak-anak kecil berteriak mencari ayah
AYAH, di mana ayah?
Aku ingin berlindung padamu ayah
Tidak sudah-sudah mereka menangis
Tiada rasa gembira atau ceria
Saudara mereka lenyap entah kemana
Masa depan mereka malap begitu sahaja
Kita disini
Mendengar, melihat dan sekadar memerhati
Apa yang boleh kita lakukan?
Apa?
Kita tak mampu lakukan apa-apa!
Selain menghulur bantuan wang
Sekadar berdoa untuk mereka
Sekadar bersyukur kerana berada di dalam negara yang aman
Tapi
Di mana kita sebenarnya pada malam mereka di bom?
Pada malam mereka dihancurkan?
Pada malam mereka dimusnahkan oleh bangsa israel?
Kita di mana ya?
Mereka tidak pernah mengimpikan sedemikian rupa
Mereka tidak pernah bayangkan hidup mereka akan hancur seperti itu
Kita di sini
Masih lagi bersuka ria,
Masih lagi bergelak ketawa,menyanyi, mendengar hiburan,
Ya itu kita,
Tapi pernahkah kita fikir
andai kita menjadi seperti mereka
Sedang duduk membaca
Sedang asyik bermain bola
Tiba-tiba kita dihujani dengan bom
Dihujani dengan tembakan
Apakah kita bersedia?
Adakah kita bersedia untuk itu semua?
Bersedialah sebelum kena
Jangan sudah terhantuk baru nak terngadah
Itu semua tiada guna
Ingatlah, Kegembiraan bukannya tiada petualang
Keharmonian bukannya tiada musuh
Tapi, kealpaan sering membuatkan kita terjatuh!
Hasil Karya: Mohd Fauzi Abd Rahman
Pendeklamasi : Mohd Fauzi Abd Rahman
Usahlah kita mengharapkan lagi
Dari mereka kata simpati
Pengucapan dibibir lembut meniti
Tiada semestinya pengucapan dihati
Hanyalah kita sesama kita
Yang memahami erti derita
Hanyalah kita sesama kita
Yang mengerti erti kemanusiaan.......kemanusiaan...
Anak-anak kecil di sana
Berteriak mencari ibu mereka
IBU, di mana ibu?
Aku rindu pada belaianmu ibu
Di sana juga
Anak-anak kecil berteriak mencari ayah
AYAH, di mana ayah?
Aku ingin berlindung padamu ayah
Tidak sudah-sudah mereka menangis
Tiada rasa gembira atau ceria
Saudara mereka lenyap entah kemana
Masa depan mereka malap begitu sahaja
Kita disini
Mendengar, melihat dan sekadar memerhati
Apa yang boleh kita lakukan?
Apa?
Kita tak mampu lakukan apa-apa!
Selain menghulur bantuan wang
Sekadar berdoa untuk mereka
Sekadar bersyukur kerana berada di dalam negara yang aman
Tapi
Di mana kita sebenarnya pada malam mereka di bom?
Pada malam mereka dihancurkan?
Pada malam mereka dimusnahkan oleh bangsa israel?
Kita di mana ya?
Mereka tidak pernah mengimpikan sedemikian rupa
Mereka tidak pernah bayangkan hidup mereka akan hancur seperti itu
Kita di sini
Masih lagi bersuka ria,
Masih lagi bergelak ketawa,menyanyi, mendengar hiburan,
Ya itu kita,
Tapi pernahkah kita fikir
andai kita menjadi seperti mereka
Sedang duduk membaca
Sedang asyik bermain bola
Tiba-tiba kita dihujani dengan bom
Dihujani dengan tembakan
Apakah kita bersedia?
Adakah kita bersedia untuk itu semua?
Bersedialah sebelum kena
Jangan sudah terhantuk baru nak terngadah
Itu semua tiada guna
Ingatlah, Kegembiraan bukannya tiada petualang
Keharmonian bukannya tiada musuh
Tapi, kealpaan sering membuatkan kita terjatuh!
Thursday, February 26, 2009
Puisi : Lapang Hati
Mereka yang dirahmati Allah SWT,
senantiasa mampu menyikapi berbagai persoalan dengan hati yang lapang.
Ada kalanya mereka bersedih, berduka, kecewa, atau barangkali tersulut kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali.
Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh.
Ketenangan menghiasi jiwa-jiwa mereka.
Duhai betapa indahnya.
Subhaanallah. .
Dalam keseharian kita,
seringkali kita dapati persoalan-persoalan yang sebenarnya remeh,
namun kita lihat lalu sikapi secara keliru hingga demikian
keras terasa benturan dalam psikologis kita.
Sempit dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah,
hati bergemuruh duka cita, tetes air mata dan bahkan.. dendam !
Astaghfirullah. .
Setiap kita pasti memiliki tujuan hidup yang sedemikian agung dan mulia.
Namun, ketika dalam perjalanan menuju tujuan tersebut, justru terdominasi
oleh sikap semacam di atas, tentu akan sulit tercapai.
Sulit rasanya, menciptakan amal-amal, juga karya-karya yang besar,
lantaran ia hanya mampu terlahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang,
penuh ridha, serta pikiran yang jernih. Sifat - sifat seperti ini
dengan mudah dapat kita cermati pada kisah hidup orang - orang shalih.
Apa kunci sikap lapang dada yang dimiliki oleh
para salafusshalih (insan shalih) ini, hingga demikian mudah bagi mereka
untuk menapaki tiap ujian perjalanan dan meraih hidup 'bahagia'?
senantiasa mampu menyikapi berbagai persoalan dengan hati yang lapang.
Ada kalanya mereka bersedih, berduka, kecewa, atau barangkali tersulut kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali.
Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh.
Ketenangan menghiasi jiwa-jiwa mereka.
Duhai betapa indahnya.
Subhaanallah. .
Dalam keseharian kita,
seringkali kita dapati persoalan-persoalan yang sebenarnya remeh,
namun kita lihat lalu sikapi secara keliru hingga demikian
keras terasa benturan dalam psikologis kita.
Sempit dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah,
hati bergemuruh duka cita, tetes air mata dan bahkan.. dendam !
Astaghfirullah. .
Setiap kita pasti memiliki tujuan hidup yang sedemikian agung dan mulia.
Namun, ketika dalam perjalanan menuju tujuan tersebut, justru terdominasi
oleh sikap semacam di atas, tentu akan sulit tercapai.
Sulit rasanya, menciptakan amal-amal, juga karya-karya yang besar,
lantaran ia hanya mampu terlahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang,
penuh ridha, serta pikiran yang jernih. Sifat - sifat seperti ini
dengan mudah dapat kita cermati pada kisah hidup orang - orang shalih.
Apa kunci sikap lapang dada yang dimiliki oleh
para salafusshalih (insan shalih) ini, hingga demikian mudah bagi mereka
untuk menapaki tiap ujian perjalanan dan meraih hidup 'bahagia'?
Monday, January 19, 2009
Puisi : Menyintai tidak bermakna memiliki
Janganlah kau angkuh melaungkan.. .
Si dia kepunyaanmu. ..
Atau kau kepunyaan si dia ...
Kerana hakikatnya.. .
Kita tidak pernah memiliki sesiapa...
Walau sekeping hati seorang insan...
Tidakkah kau sedar...
Hukum alam menyatakan.. .
Menyintai tidak semestinya memiliki?...
Janganlah kau angkuh melaungkan.. .
Si dia kepunyaanmu. ..
Atau kau kepunyaan si dia ...
Kerana hakikatnya.. .
Kita tidak pernah memiliki sesiapa...
Walau sekeping hati seorang insan...
Tidakkah kau sedar...
Hukum alam menyatakan.. .
Menyintai tidak semestinya memiliki?...
Manusia pandai berpura...
Berlakon di pentas dunia...
Dan bertopeng menutup rahsia..
Tetapi hati...
Tidak pernah berdusta pada empunya...
Tentang perasaan yang bergolak di dalamnya...
Tidakkah kau sedar...
Mungkin si dia melafazkan.. .
Ungkapan cinta padamu...
Tetapi hati dan perasaannya. ..
Tidak pernah berniat begitu...
Dia hanya berselindung. ..
Di sebalik sejuta alasan...
Dan kau...
Begitu jujur dan setia menyintainya. .
Sehingga terlupa..
Hukum alam menyatakan..
Menyintai tidak bermakna memiliki..
Sesungguhnya. ..
"Aku tidak pernah memiliki dirimu..."
"Dan kau jua tidak memiliki diriku."
Mengertilah. ..
Kita sebenarnya kepunyaan..
Yang Maha Esa...
Tiada sesiapa berhak memiliki diri kita...
Kecuali Dia...
Dia mengasihi hambaNya...
Dia memiliki hambaNya...
Dan ke pangkuan Dia kita akan dikembali....
Si dia kepunyaanmu. ..
Atau kau kepunyaan si dia ...
Kerana hakikatnya.. .
Kita tidak pernah memiliki sesiapa...
Walau sekeping hati seorang insan...
Tidakkah kau sedar...
Hukum alam menyatakan.. .
Menyintai tidak semestinya memiliki?...
Janganlah kau angkuh melaungkan.. .
Si dia kepunyaanmu. ..
Atau kau kepunyaan si dia ...
Kerana hakikatnya.. .
Kita tidak pernah memiliki sesiapa...
Walau sekeping hati seorang insan...
Tidakkah kau sedar...
Hukum alam menyatakan.. .
Menyintai tidak semestinya memiliki?...
Manusia pandai berpura...
Berlakon di pentas dunia...
Dan bertopeng menutup rahsia..
Tetapi hati...
Tidak pernah berdusta pada empunya...
Tentang perasaan yang bergolak di dalamnya...
Tidakkah kau sedar...
Mungkin si dia melafazkan.. .
Ungkapan cinta padamu...
Tetapi hati dan perasaannya. ..
Tidak pernah berniat begitu...
Dia hanya berselindung. ..
Di sebalik sejuta alasan...
Dan kau...
Begitu jujur dan setia menyintainya. .
Sehingga terlupa..
Hukum alam menyatakan..
Menyintai tidak bermakna memiliki..
Sesungguhnya. ..
"Aku tidak pernah memiliki dirimu..."
"Dan kau jua tidak memiliki diriku."
Mengertilah. ..
Kita sebenarnya kepunyaan..
Yang Maha Esa...
Tiada sesiapa berhak memiliki diri kita...
Kecuali Dia...
Dia mengasihi hambaNya...
Dia memiliki hambaNya...
Dan ke pangkuan Dia kita akan dikembali....
Puisi : Pertemuan Bukan Milik Kita
Pertemuan...
Menghadiahkan kita kasih sayang
Bila cinta SATU pasti bertemu
Ia tidak ternilai..
Kerana antara hati kita
Sudah tiada antaranya lagi..
Yang ada hanya cinta kasih ILLAHI
Biar berpisah selalu menderita
Kerana pertemuan bukan milik kita
Jasad dan suara berjauhan sentiasa
Namun cinta ABADI
Kita terpisah hanya sementara
Kerna pertemuan bukan milik kita
Kerana syurga menagih ujian
Sedang neraka dipagari oleh nikmat
Bertemu tidak jemu
Berpisah tak gelisah
Bicara kita adalah bicara sufi
Tanpa suara dan kata-kata
Kerana penghubung kita adalah suara hati
Bertemu berpisah kerana ALLAH..
Menghadiahkan kita kasih sayang
Bila cinta SATU pasti bertemu
Ia tidak ternilai..
Kerana antara hati kita
Sudah tiada antaranya lagi..
Yang ada hanya cinta kasih ILLAHI
Biar berpisah selalu menderita
Kerana pertemuan bukan milik kita
Jasad dan suara berjauhan sentiasa
Namun cinta ABADI
Kita terpisah hanya sementara
Kerna pertemuan bukan milik kita
Kerana syurga menagih ujian
Sedang neraka dipagari oleh nikmat
Bertemu tidak jemu
Berpisah tak gelisah
Bicara kita adalah bicara sufi
Tanpa suara dan kata-kata
Kerana penghubung kita adalah suara hati
Bertemu berpisah kerana ALLAH..
Thursday, September 25, 2008
Puisi : Inginku Pinjam Tulisanmu
Impian seribu ilham
Menjadi sejuta kenangan
Walau tinta berterusan
Belum pasti ia dikabulkan
Bukan merintih dan merayu
Sekadar monolog sekeping hati
Mentafsir berkali-kali
Namun faham hanya sendiri
Susah benar untuk mencerna
Payah benar untuk bercerita
Lama benar untuk dikongsi
Hanya sedikit dimengerti
Kini sendiri mencari ilham
Terjeruk rasa sebuah keinginan
Namun tekadku takkan terpendam
Demi mencari pentasan kehidupan
Tintaku tidak berkali
Sekadar pemuat ilham sendiri
Entah bila ianya menjadi
Tenggelam timbul tika dilayari
Bagai kini ilhamku rindu
Mencerna sebuah taman ilmu
Ibarat aku mencari satu
Inginku pinjam tulisanmu.....
Menjadi sejuta kenangan
Walau tinta berterusan
Belum pasti ia dikabulkan
Bukan merintih dan merayu
Sekadar monolog sekeping hati
Mentafsir berkali-kali
Namun faham hanya sendiri
Susah benar untuk mencerna
Payah benar untuk bercerita
Lama benar untuk dikongsi
Hanya sedikit dimengerti
Kini sendiri mencari ilham
Terjeruk rasa sebuah keinginan
Namun tekadku takkan terpendam
Demi mencari pentasan kehidupan
Tintaku tidak berkali
Sekadar pemuat ilham sendiri
Entah bila ianya menjadi
Tenggelam timbul tika dilayari
Bagai kini ilhamku rindu
Mencerna sebuah taman ilmu
Ibarat aku mencari satu
Inginku pinjam tulisanmu.....
Wednesday, September 17, 2008
Puisi : Terima Kasih Sahabat
Sahabat
Pernah dulu aku tak mengerti
Kehadiranmu disisi
Apa harus kurasai
Suka atau benci....
Sahabat
Aku pernah bertekad
Hanya sekali aku muktamad
Tiada ulangan tiada tempat
Sendiri aku akhirnya bertekad
Sahabat
Dunia ini tidaklah mutlak
Walau tekad sudah bernoktah
Tuhan jua yang punya takdir
Segala kemungkinan terhampar
Tiada yang mustahil
Sahabat
Aku cuba mengerti kehadiranmu kini
Hikmah Tuhan pasti tersembunyi
Moga Tuhan redhai hati
Agar kita sering diberkati
Namun sahabat,
Sungguh aku tak suka perkenalan
Yang akhirnya bawa perpisahan
Perit untuk diangankan
Lagi pedih bila berdepan
Justeru sahabat
Takdir aku mungkin berundur
Sebelum disentap
Sebuah sejarah ulangan
Yang pernah menggigit jiwa
Maafkan aku sahabat
Andai persahabatan ini ikhlas
Aku yakin Tuhan akan jagainya
Kerana Tuhan adalah Yang Maha Kuasa
Kerana Tuhan takkan pernah zalim
Sahabat
Berundur aku sekadar hakikat
Jangan dibuang ke lopak sepi
Jika aku tak terlihat lagi
Sahabat
Terima kasih atas segalanya
Sebuah hakikat
Pasti jadi kenangan jiwa
Pernah dulu aku tak mengerti
Kehadiranmu disisi
Apa harus kurasai
Suka atau benci....
Sahabat
Aku pernah bertekad
Hanya sekali aku muktamad
Tiada ulangan tiada tempat
Sendiri aku akhirnya bertekad
Sahabat
Dunia ini tidaklah mutlak
Walau tekad sudah bernoktah
Tuhan jua yang punya takdir
Segala kemungkinan terhampar
Tiada yang mustahil
Sahabat
Aku cuba mengerti kehadiranmu kini
Hikmah Tuhan pasti tersembunyi
Moga Tuhan redhai hati
Agar kita sering diberkati
Namun sahabat,
Sungguh aku tak suka perkenalan
Yang akhirnya bawa perpisahan
Perit untuk diangankan
Lagi pedih bila berdepan
Justeru sahabat
Takdir aku mungkin berundur
Sebelum disentap
Sebuah sejarah ulangan
Yang pernah menggigit jiwa
Maafkan aku sahabat
Andai persahabatan ini ikhlas
Aku yakin Tuhan akan jagainya
Kerana Tuhan adalah Yang Maha Kuasa
Kerana Tuhan takkan pernah zalim
Sahabat
Berundur aku sekadar hakikat
Jangan dibuang ke lopak sepi
Jika aku tak terlihat lagi
Sahabat
Terima kasih atas segalanya
Sebuah hakikat
Pasti jadi kenangan jiwa
Friday, September 12, 2008
Puisi : Ku Sebut Namamu
Bila hati berbicara
Mengukir sebuah kemanisan
Sukar untuk menghentikannya
Bila mata berbicara
Mengenyit rindu bayangan
Sukar untuk melepaskannya
Bila mulut berbicara
Menyebut kalimah cinta
Sukar untuk mematikannya
Namun,
Bila bicara hanya sendiri
Tak mungkin ia dimengerti
Bila mata hanya melihat
Tak mungkin ia difahami
Bila mulut terkunci rapat
Tak mungkin ianya terisi
Biarlah
Hanya kusebut namamu
Walau kepastian telah berlalu
Kerana kau tak mungkin milikku....
Izinkan aku
Terus menyebut namamu dihatiku...........
Mengukir sebuah kemanisan
Sukar untuk menghentikannya
Bila mata berbicara
Mengenyit rindu bayangan
Sukar untuk melepaskannya
Bila mulut berbicara
Menyebut kalimah cinta
Sukar untuk mematikannya
Namun,
Bila bicara hanya sendiri
Tak mungkin ia dimengerti
Bila mata hanya melihat
Tak mungkin ia difahami
Bila mulut terkunci rapat
Tak mungkin ianya terisi
Biarlah
Hanya kusebut namamu
Walau kepastian telah berlalu
Kerana kau tak mungkin milikku....
Izinkan aku
Terus menyebut namamu dihatiku...........
Friday, August 29, 2008
Puisi : Merdeka
Merdeka
Laungan keramat yang didamba
Bukan sahaja yang punya bicara
Malah seinci umat jua
Merdeka
Sebuah perjuangan dari dahulukala
Dipusakai generasi seterusnya
Menjadi warisan berharga
Tidak ternilai dek bicara
Merdeka
Perit jerih tok nenek mendapatkannya
Menjulang keris dan senjata
Juga bijak atur bicara
Membebaskan bangsa agar merdeka
Kini kita menikmatinya
Dengan aman dan sejahtera
Juga rentetan peristiwa sejarahnya
Yang segar dalam lipatannya
Namun,
Benarlah kita bangsa yang alpa
Bicara manis sentiasa menjadi madahnya
Hasad dengki mainan jiwa
Bukankah ini suatu derita?
Juga sebuah petanda?
Yang aman akan berubah jua
Yang damai akan direntap sengsara
Yang tenang akan dirimbakan akhirnya
Anak bangsa yang merdeka
Pulangkanlah sirih ke gagangnya
Janganlah alpa, janganlah leka
Kelak pancang tertumbang jua.....
Laungan keramat yang didamba
Bukan sahaja yang punya bicara
Malah seinci umat jua
Merdeka
Sebuah perjuangan dari dahulukala
Dipusakai generasi seterusnya
Menjadi warisan berharga
Tidak ternilai dek bicara
Merdeka
Perit jerih tok nenek mendapatkannya
Menjulang keris dan senjata
Juga bijak atur bicara
Membebaskan bangsa agar merdeka
Kini kita menikmatinya
Dengan aman dan sejahtera
Juga rentetan peristiwa sejarahnya
Yang segar dalam lipatannya
Namun,
Benarlah kita bangsa yang alpa
Bicara manis sentiasa menjadi madahnya
Hasad dengki mainan jiwa
Bukankah ini suatu derita?
Juga sebuah petanda?
Yang aman akan berubah jua
Yang damai akan direntap sengsara
Yang tenang akan dirimbakan akhirnya
Anak bangsa yang merdeka
Pulangkanlah sirih ke gagangnya
Janganlah alpa, janganlah leka
Kelak pancang tertumbang jua.....
Wednesday, August 6, 2008
Puisi : Sahabat
Aku ingin sekali berkongsi sesuatu tentang sahabat....
Sekadar menjadi alunan bahasa di dalam puisi ini, karya rahman shaari...
Salam kasih untuk sahabat
Yang bersusah kerana kesusahanku
Memberiku pinjaman
Apa yang sukar aku bayarkan
Memberiku kefahaman
Apa yang dulu aku kelirukan
Salam kasih untuk sahabat
Yang mengajarku jangan jemu
Ilmu tidak tawar oleh ulangan
Jiwa tidak luntur oleh sumpahan
Salam hormat setingginya, sahabat
Aku kagum pada hujahmu
Aku pernah tiba pada tempat
Dimana pujian semakin murah
Cacian juga semakin cepat
Aku pernag tiba pada padang
Di mana kebenaran semakin jarang
Kini di sini aku berdiri
Dengan kaki peribadi sendiri
Pertemuan singkat denganmu sahabat
Menghadiahkan aku makna hakikat....
Sekadar menjadi alunan bahasa di dalam puisi ini, karya rahman shaari...
Salam kasih untuk sahabat
Yang bersusah kerana kesusahanku
Memberiku pinjaman
Apa yang sukar aku bayarkan
Memberiku kefahaman
Apa yang dulu aku kelirukan
Salam kasih untuk sahabat
Yang mengajarku jangan jemu
Ilmu tidak tawar oleh ulangan
Jiwa tidak luntur oleh sumpahan
Salam hormat setingginya, sahabat
Aku kagum pada hujahmu
Aku pernah tiba pada tempat
Dimana pujian semakin murah
Cacian juga semakin cepat
Aku pernag tiba pada padang
Di mana kebenaran semakin jarang
Kini di sini aku berdiri
Dengan kaki peribadi sendiri
Pertemuan singkat denganmu sahabat
Menghadiahkan aku makna hakikat....
Subscribe to:
Posts (Atom)